1 Identifikasi pola pergerakan

Petakan retak, deformasi, perubahan elevasi dan elemen terdampak. Catat orientasi, lebar, kontinuitas serta urutan waktu tanpa menganggap lebar retak saja sebagai bukti penyebab atau tingkat keparahan.

Tentukan elemen yang bergerak bersama atau tetap; apakah polanya lokal, memanjang, di perimeter atau meluas; apakah pergerakan berlanjut, musiman, terkait beban atau tampak stabil; serta pergeseran terkait pada pintu, utilitas, sambungan dan perkerasan sekitar.

2 Tinjau perubahan yang terjadi

Periksa urutan konstruksi, informasi fondasi, penambahan bangunan, penggalian, perubahan beban atau penggunaan, pekerjaan sekitar, riwayat drainase, kebocoran, banjir, vegetasi dan perbaikan terdahulu. Kronologi bertanggal dapat mengungkap hubungan yang tidak terlihat dalam satu inspeksi.

3 Susun hipotesis alternatif

Pertimbangkan timbunan bervariasi, konsolidasi, erosi, perubahan kelembapan, galian di sekitar, redistribusi beban, kebocoran utilitas, detail fondasi atau kombinasi faktor sampai bukti dapat membedakannya.

4 Sesuaikan investigasi dengan ketidakpastian

Gabungkan dokumen, survei, pemantauan, metode nondestruktif, investigasi intrusif dan uji laboratorium atau in situ sesuai kebutuhan keputusan. Setiap kegiatan harus menjawab pertanyaan tertentu dan mengidentifikasi bukti yang mendukung atau melemahkan hipotesis.

5 Tetapkan tujuan penanganan

Peningkatan dukungan, pembatasan pergerakan lanjutan, pemulihan elevasi, perlindungan operasi dan perbaikan jalur air merupakan tujuan berbeda. Usulan perlu menjelaskan tujuan yang ditangani, hal yang tidak ditangani dan kondisi yang dapat mengubah rencana.

6 Verifikasi dan pantau

Sepakati titik acuan, metode pengukuran, toleransi dan periode penelaahan. Gunakan titik henti serta kriteria eskalasi jika ketidakpastian masih ada, tanpa menjamin satu hasil prediksi.